CERPEN UNTUK CEMENTICLE 2019


ANANDYA
Kenia Audita Maheswari

Jika saja waktu dapat diulang kembali, akankah lebih baik?
Anandya kembali ke kampung halaman, Jogja. Kota Pelajar yang setiap sudutnya selalu dirindukan. Setelah dua tahun ia ‘kabur’ ke Bandung untuk belajar seni dan tulis, kali ini ia memutuskan untuk melanjutkan studi arsitektur di salah satu universitas swasta yang cukup terkenal di Jogja. Keputusan untuk kembali ke kota itu adalah keputusan yang besar. Bermodal tekad bulat untuk menulis sejarah baru di kota itu dan membuktikan bahwa ia benar-benar telah memaafkan masa lalu.
Anandya memberi kabar pada Ibunya bahwa ia telah sampai dengan selamat. Perempuan dengan paras manis dan sawo matang itu merebahkan tubuhnya pada kasur di sudut kamar. Ia memperhatikan sekeliling. Masih banyak ruang yang belum terisi, kos barunya terasa sangat lega.
            Jogja selalu menjadi tempat ternyaman di hati Anandya, setelah banyak kota ia singgahi tetap saja rasa rumah selalu ada di Jogja. Nyaman, sekaligus kota yang menyakiti rusuknya.
            “Nandya?
            Mata bulat Anandya menatap tak percaya pada perempuan yang menyapanya saat dia berada di depan deretan rak bumbu masakan sebuah swalayan. Perempuan itu, Danastri.
            “Nandya kan? Iya bener Nadya!” kata perempuan itu sumringah, “Apa kabar? Dari mana aja kamu? Setelah kelulusan menghilang begitu aja.”
            Namanya Danastri, biasa dipanggil Astri. Bukan sembarang teman, sebenarnya ia termasuk salah satu perempuan yang ia anggap dekat semasa sekolah dulu. Anandya sudah mempersiapkan diri jika hal-hal seperti ini terjadi, maka ia mencoba tersenyum santai, seakan tidak pernah ada suatu apapun yang buruk yang terjadi di antara mereka.
            Dua sekawan itu duduk di bangku taman depan swalayan dan bercakap ngalor ngidul, mulai dari hal-hal menarik yang Anandya dapat di Bandung sampai kekasih baru Danastri yang baru saja memberikannya kalung perak. Danastri bahkan menunjukan kalung perak yang semenjak tadi bersembunyi dibalik kerah kemejanya. Kalung yang indah dengan bandul bunga perak Kotagede.
            “Jadi siapa lelaki beruntung itu?”
            “Teman kita, Leksana. Kamu ingat?”
            Anandya tidak mungkin lupa dengannya, salah satu sahabat baik Abimana.
            “Nandya,” Danastri memegang kedua tangan Anandya dan menatapnya serius, “Aku tidak ingin pura-pura lupa. Ada hal yang ingin kubicarakan.”
            Menyadari Danastri hendak membuka pembicaraan yang tak ia dengar, Anandya tersenyum tipis sambal menepikan tangan perempuan itu. Dia berdiri dan segera pamit.
Sore setelah pertemuan Anandya dengan Danastri yang tanpa sengaja itu membuahkan sebuah kamar nan indah. Hati gundahnya berhasil menggubah ruangan itu dalam kurun waktu enam jam saja. Kamar itu kini terasa sangat Anandya, cat putih bersih; perabotan kayu mahoni; rangkaian bunga kering yang digantung; juga dua jendela besar lengkap dengan tirai tebal dan panjang yang menghias dua sisi dinding kamarnya.
Namun malamnya, Anandya tidak kunjung terlelap. Dia meragu apakah keputusannya untuk kembali ke Jogja adalah keputusan yang benar. Apakah ia sudah betul-betul memaafkan dirinya sendiri dan juga Abimana.
Abimana, tidak sedetikpun nama dan rasa itu hilang dari sukma Anandya.
            Pagi yang cerah, Anandya beranjak ke sekolah. Tidak lupa gelang keberuntungannya, perak Kotagede memang yang terbaik. Gelang ini pemberian Abimana kekasihnya, dua tahun sudah mereka berjalan bersama.
            Kecuali hari itu, sekolah selalu menjadi tempat terbaik bagi Anandya. Teman-teman tidak lagi menyapanya dengan senyuman, apalagi sahabat-sahabatnya yang biasa menyerukan namanya dari lantai dua. Seperti mimpi buruk, hari itu tidak ada yang mengajaknya bicara. Bahkan Danastri teman sebangkunya, hanya datang dan berkata bahwa ia lupa mengerjakan PR lalu duduk di bagian belakang. Jauh dari Anandya, rasanya dunia menjauh dari Anandya.
            Seminggu sudah rasa janggal yang menyiksa ini dilalui Anandya, beberapa orang mengajaknya bicara hanya saat mereka benar-benar membutuhkannya. Ada apa?
            Keringat mengucur deras pagi itu, lagi-lagi kenangan buruk yang diberikan Jogja pada Anandya tiga tahun lalu menghantui mimpinya. Anandya lekas beranjak dari kasur dan membasuhkan air sebanyak-banyaknya.
            “Nandya, kamu di dalam?”
Anandya menggengam erat handuk di tangannya saat suara itu muncul dari depan pintu. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Tanpa basa-basi, ia mempersilahkan Danastri untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Maafkan aku, dengarkan aku dulu.”
            “Untuk apa, Astri?”
            Hati Anandya setengah lega mendengar penjelasan dan permintaan maaf Danastri. Sudah lupakan saja, kata Anandya di akhir percakapan. Danastri memeluk erat Anandya, tetaplah berteman denganku. Anandya balik memeluknya. Danastri tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Sebelum pulang, ia merobek secarik kertas dari buku catatannya dan menyerahkannya kepada Anandya.
            Anandya menutup pintu kamarnya rapat-rapat, setengah hatinya lega. Setengah lagi menganga bersama lukanya.
            Temui aku, Taman Budaya malam ini. Abimana.
            Begitu bunyi tulisan yang diberikan Danastri. Tulisan tangan Abimana.
            Taman Budaya Yogyakarta, seperti jantung kota bagi Anandya. Masih sama seperti dulu, bangunan ini selalu terlihat gagah sekaligus rapuh. Menemui Abimana, Anandya melangkah hati-hati dan perlahan, seakan ia tak ingin kunjung sampai di panggung belakang.
            Sosok Abimana membelakangi Anandya, menatap lurus kearah panggung hitam itu. Ia duduk di salah satu tangga penonton, sendirian. Anandya berdiri tepat dibalik punggung Abimana saat lelaki itu menoleh kebelakang. Anandya terpaku dengan tatapan mata itu, mata Abimana, hingga luruh semua luka dan tanda tanya di benaknya.
            “Kenapa?”
Hanya satu kata itu yang bisa Anandya ucapkan, setelah puluhan kata yang ia rangkai dijalan menuju kemari.
            Abimana beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan Anandya, “Aku minta maaf membuatmu menderita.” Raut wajahnya datar, tapi Anandya dapat menangkap rasa penyesalan dari nada suaranya.
            “Tidak perlu. Bukan kamu yang menyakitiku, tapi diriku sendiri.”
            Saat hening menghantui Anandya sadar, ia tidak ingin Abimana melihat hatinya yang masih menunggu. Hati Anandya mengetok palu untuk berlalu. Perempuan itu kemudian menyodorkan sebuah surat untuk Abimana, “Aku kemari hanya untuk memberikan ini.” Abimana tak kalah sengsara, hatinya meronta. Namun tanpa daya ia merelakan Anandya berjalan pergi, untuk kesekian kalinya, ia tau ia tidak pantas.
            Untuk kamu yang kukasihi, Abimana. Mengertilah kamu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kembali utuh, begitu pula kebahagiaanku dulu. Hal yang kusyukuri adalah kali ini aku yakin sudah berhasil memaafkan diriku sendiri dan dapat menegakkan kepalaku.
            Berhubungan bebas di masa remaja bukan sesuatu yang baik. Walaupun aku sangat menghargai hak asasi manusia, namun nyatanya hal itu membawaku terjun ke jurang yang paling dalam. Paling sunyi, sangat menyakitkan. Yang aku tak pahami, mengapa stigma masyarakat selalu mengorbankan pihak perempuan.
            Aku melihatmu membanggakannya saat memamerkan itu kepada teman-temanmu. Disaat dengan kenyataan itu aku betul-betul menderita. Dua tahun aku pergi, aku berhasil memaafkanmu pada bulan ketiga. Justru memaafkan diriku sendiri adalah hal tersulit yang harus kulakukan. Banyak yang kulalui sampai aku hadir di titik ini. Beberapa sayatan di pergelangan tangan yang kemudian kusadari sebagai hal yang tidak perlu.
Sayang sekali Abimana, kita tidak dapat tumbuh seperti nama yang orang tua kita beri. Anandya yang ‘sempurna’ dan Abimana yang ‘berbudi tinggi’. Jika saja waktu dapat diulang kembali, akankah lebih baik?
            Bagaimanapun, saatnya melanjutkan hidup. Abimana, terima kasih sudah menyesal, tidak berdusta, dan tidak pura-pura lupa. Terima kasih pernah menjadi partner yang baik. Selamat tinggal, Abimana. It’s always been you.
Nandya.
            Dan untuk aku masa lalu, aku memaafkanmu. Anandya tersenyum bangga pada dirinya.
TAMAT

Comments

Popular posts from this blog

12/11/17

Saudade