ARTIKEL UNTUK RECRUITMENT HIMA


YOGYAKARTA LIMA TAHUN KE DEPAN

Kenia Audita Maheswari





Daerah Istimewa, Kota Pelajar, Yogyakarta. Bersanding dengan Bandung dan Bali, kota ini menjadi salah satu kota di Indonesia yang berpeluk erat pada seni dan arsitektur. Bali yang tradisional, Bandung yang modern, dan Yogyakarta yang keduanya.

Perkembangan arsitektur dan tata kota Yogyakarta tidak akan luput dari fakta bahwa kota ini seperti dua bilah bambu yang berkembang dengan selaras. Kedua bilah yang berbeda namun saling melengkapi, satu sisi modern dan satu sisi tradisional. Hal ini dapat disebabkan karena keberagaman selera maupun latar belakang ekonomi masyarakat Yogyakarta.

Hal yang mencolok dari sisi modernitas adalah bagaimana Yogyakarta pada akhirnya melahirkan gedung tinggi lebih dari delapan lantai. Berdasar Peraturan Daerah Kota Yogyakarta no. 1 (satu) tahun 2015 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Yogyakarta, bangunan di Kota Pelajar ini untuk jasa dan perdagangan dibatasi pada tinggi 32 meter diatas permukaan tanah atau sebanyak delapan lantai. Peraturan tersebut bertujuan untuk menjaga cagar budaya. Namun, karena peraturan tersebut hanya mengikat pembangunan di Kota Yogyakarta, gedung setinggi 21 lantai pun dapat dibangun di kawasan Sleman.

Selain modernitas, Yogyakarta juga dapat berkaca pada Bali dalam sisi tradisional. Regulasi yang ketat serta masyarakat yang memegang erat tradisi membuat setiap bangunan di Pulau Dewata merespon budayanya. Hal ini menjadi ciri khas yang kemudian mengantar Bali meduduki peringkat pertama dalam Traveller’s Choice Award 2017, mengalahkan Eropa, Amerika, dan Timur Tengah. Peran pemerintah sebagai lembaga yang berwenang sangat kuat disini.

Rupa Yogyakarta lima tahun kedepan bukan hanya menjadi tanggung jawab arsitek dan pemerintah, namun juga seluruh masyarakat Yogyakarta. Setiap pengolahan bangunan sebaiknya memperhatikan regulasi yang ada, seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB); Koefisien Lantai Bangunan (KLB); Koefisien Dasar Hijau (KDH); dan lainnya. Pentingnya kesadaran akan kesehatan kota dan pelestarian budaya, pendampingan arsitek terhadap masyarakat awam juga dapat menjadi salah satu cara untuk pembangunan yang baik.


Yogyakarta, 17 Agustus 2019

Image source  : Tribun Jogja, http://jogja.tribunnews.com 

Comments

Post a Comment

Popular Posts