IT HAD TO BE US - Chapter one

Hello guys, this is my first writing collaboration with my dear friend Uik. This semi-novel's genre is kind of romance and slice of life, hope you like it.








IT HAD TO BE US










Written by
Uik and Kenya











Chapter One











RERA

Secangkir kopi, sebatang LA menthol, dan senja di jendela café langgananku. Sungguh sore yang sempurna. Perpaduan harmonis untuk mengucapkan selamat tinggal pada matahari, dan selamat datang pada waktu-waktu sibuk yang harus aku lalui malam ini.
Aku sedang sibuk mengoreksi kata demi kata di naskah monologku. Beberapa kata yang terdengar kaku saat diucapkan memang lebih baik diganti. Walaupun menggunakan bahasa yang baku dan sesuai dengan EYD (Ejaan yang dibenarkan), menurutku terlalu berlebihan dalam memilih kosakata juga tidak bagus. Terutama karena pentas ini dibuka untuk umum, bukan di kalangan pecinta teater saja.
“Rera!”
Seseorang memanggil namaku. Orang itu mengenakan kemeja biru donker yang pas sekali ditubuhnya, lengan kemejanya di lipat tiga sampai empat kali sehingga lengan penuh ototnya dapat terlihat dengan jelas, dia juga mengenakan celana kain warna coklat muda dan sepatu loafer abu-abu. Ini dia, cowok paling rapi dan fashionable se-Universitas Seni Yogyakarta sekaligus kakak tingkat favoritku, Rian.
“Hey, udah kelar meetingnya?”
“Udah.”
Rian duduk di kursi dihadapanku lalu meletakkan tas dan tumpukan kertas yang dia bawa di kursi sampingnya.
“Terus gimana? Udah dapet?” tanyaku.
“Tenang aja, Ra!”
“Berarti udah dapet kan? Kayak apa orangnya?”
“Belum sih, hehehe.”
Aku mencubit lengannya dan menghela napas.
“Tinggal dua bulan lagi loh pentasnya.”
“Iya, iya, dengerin dulu deh. Jadi gini, emang gue belum dapet orang yang bisa ngiringin lo monolog. Tapi beberapa hari lalu gue tau kalau adik kelas gue waktu SMA keterima di univ kita.” katanya menggebu-gebu.
“Terus? Apa hubungannya?”
“Gue dulu sempet denger kalau dia itu jago banget main alat musik.”
“Yakin lo?” tanyaku ragu.
“Yakin banget. Soalnya yang bilang itu temen-temen gue yang sering nge band.”
“Oke, tapi gue mau liat dulu deh Yan orangnya kayak gimana.”
“Nah! Kebetulan nih gue udah nunjuk dia buat jadi bintang tamu perwakilan dari maba buat isi acara final festival OSPEK besok ini. Lo besok nonton ya di lapangan rektorat.”
“Okedeh.” Kataku kurang yakin.
Rian berdiri dan mengambil dompetnya, “Gue pesen dulu ya, Re.”
“Gih.” Jawabku singkat.
Dua bulan lagi Universitas Seni Yogyakarta akan mengadakan pentas seni. Pentas seni yang kami beri nama “Hari Seni” ini adalah pentas yang diadakan secara rutin setiap tahun. Namanya memang sederhana, tapi persiapannya sama sekali tidak sederhana. Sejak dua bulan lalu -yang berarti empat bulan sebelum Hari Seni- kami sudah disibukkan oleh persiapan-persiapannya, mulai dari waktu pelaksanaan, susunan acara, daftar panitia, dan lain-lain.
Hari Seni diadakan selama 3 hari berturut-turut. Pada hari pertama dan hari kedua akan diadakan acara open house Universitas Seni Yogyakarta, pameran, dan festival dengan beberapa bintang tamu dari luar serta band-band dari jurusan musik. Hari ketiga, sebagai puncak acara Hari Seni akan diadakan pementasan teater.
“Lo deg-degan ga sih?” tanya Rian.
            “Deg-degan kenapa?”
            “Ya lo kan harus monolog di depan banyak orang. Kalau teater biasa sih oke oke aja ada lawan mainnya. Eh tapi lo udah sering main teater sih ya?”
            Aku geli melihat raut muka Rian yang sedikit panik, “Masih lama kali. Lo kali yang deg-degan jadi ketua acara hari ketiga. Takut acaranya fail kan, ngaku deh.”
            “Iya juga sih. Tapi gue optimis kok semua bakal berjalan lancar. Lo harus main yang bagus pokoknya!” Rian berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
            “Tenang aja, gue nggak akan kecewain kalian.” Jawabku.
            Aku kembali sibuk dengan naskah monologku dan Rian sibuk mengutak-atik rundown acara, entah untuk acara festival besok ini atau untuk acara hari seni. Rian memang selalu disibukkan dengan peran-perannya dalam event, kadang aku heran kenapa dia selalu setuju-setuju saja apabila ditunjuk untuk mengurus event ini dan itu. Kadang dia disebut prince charming karena sifatnya yang baik kepada semua orang di univ kami, hampir semua orang mengenal siapa itu Rian. Prince charming tampan, pemilik selera berpakaian bagus, dan si murah senyum.
-
Aku melihat jam dinding kuno yang digantung di atas pintu, pukul 10 malam. Tak terasa waktu berlalu hampir tiga jam sejak Rian datang. Sampai-sampai dua gelas minuman di hadapan kami sudah habis tak bersisa. Sembilan batang rokok juga sudah bengkok di asbak meja kami. Bahkan pegawai yang tadi sibuk bersih-bersih café juga sudah selesai dengan pekerjaannya dan leyeh-leyeh di belakang meja kasir.
“Balik yuk. Kasihan Pipo belum makan.” kataku.
“Pipo? Oh, anjing lu?” Rian tertawa.
“Iya, siapa lagi? Gue kan tinggal sendiri.”
 “Yaudah yuk. Gue juga mau ke basecamp.”
Kami membereskan barang-barang lalu berjalan keluar.
Bye Rian.”
Rian berjalan ke arah berlawanan, “See you di lapangan ya. Nanti gue kenalin sama Kharisma.”
            Who is Kharisma?”
            Tak ada jawaban. Mungkin tidak terdengar karena saat ini Rian sudah jauh di ujung gang, cepat sekali dia berjalan. Aku pun lanjut berjalan menuju busway.



you can read chapter 2 here



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

12/11/17

Untukmu - For You